Tiada habisnya
Cibir-cibiran dua ekor makhluk langka
Mendramatisir tiap adegan di panggung sandiwara
Kami bertanya, "Apa hebatnya sahut-sahutan berbatas dinding?"
Mereka menjawab, "Persetan dengan kegaduhan yang kami cipta, selama
bendera kami berkibar di puncak Himalaya, kami merasa bangga"
Lalu apa lagi yang harus kucegah
Angin yang lembut pun telah membatu
Dia hanya si sosok arogan
Mati tertikam dalam peristiwa mengerikan
Dia terseret dalam kasus patah hati
Bersembunyi dalam topeng kepalsuan
Benar, dia hanyalah sebongkah sakit hati yang belum jua tersembuhkan
Dialah luka yang masih basah, masih berdarah
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya kebahagiaan yang kamu dapatkan berbanding lurus dengan kebahagiaan yang kamu upayakan. Dan kebahagiaan yang kamu peroleh tidaklah mutlak semata-mata menjadi milikmu. Berbagilah, niscaya kamu akan mendapatkan. Enjoy this Blog !!!
BLINK
Senin, 21 Juli 2014
Endo
Luar biasa
Bak koki handal meracik si mentah menjadi sang matang sempurna
Welldone!!!
Berbahan sampah disulap menjadi mewah
Campuran limbah diolah begitu 'waahhh'
Bertabur bumbu penguat rasa
Tampilan pencitraan menyilaukan mata
Lengkap sudah sajian penggoyang lidah
Menebarkan aroma penggugah selera
Siapakah korbannya?
Penyantap racun yang disamarkan sedemikian rupa
Bak koki handal meracik si mentah menjadi sang matang sempurna
Welldone!!!
Berbahan sampah disulap menjadi mewah
Campuran limbah diolah begitu 'waahhh'
Bertabur bumbu penguat rasa
Tampilan pencitraan menyilaukan mata
Lengkap sudah sajian penggoyang lidah
Menebarkan aroma penggugah selera
Siapakah korbannya?
Penyantap racun yang disamarkan sedemikian rupa
Pupu
Adalah dia yang seribu kali kuberi kesempatan
Tapi seperti yang sudah-sudah, jemu itu belum jua hadir
Hingga ia begitu leluasa mengabaikan
Adalah aku yang seribu kali memberi maaf
Bukan karena aku memiliki lebih
Namun keadaan seolah tak memberikan pilihan lain
Dan jera masih saja enggan menyapa
Hanya seperti ini
Jalan cerita yang begitu sederhana
Jauh dari kata rumit
Hanya mengulang-ulang dua buah peristiwa
Salah, lalu memaafkan
Mengulang salah, lalu mengulang memaafkan
Terlalu membosankan bukan?
Namun jemu itu belum jua hadir
Dan jera masih saja enggan menyapa
Tapi seperti yang sudah-sudah, jemu itu belum jua hadir
Hingga ia begitu leluasa mengabaikan
Adalah aku yang seribu kali memberi maaf
Bukan karena aku memiliki lebih
Namun keadaan seolah tak memberikan pilihan lain
Dan jera masih saja enggan menyapa
Hanya seperti ini
Jalan cerita yang begitu sederhana
Jauh dari kata rumit
Hanya mengulang-ulang dua buah peristiwa
Salah, lalu memaafkan
Mengulang salah, lalu mengulang memaafkan
Terlalu membosankan bukan?
Namun jemu itu belum jua hadir
Dan jera masih saja enggan menyapa
Asmon
Tak perlu kau cipta hiruk pikuk
Disini masih saja dengan sunyi yang sama
Hadirmu hanya lambaian daun
Tak beri rona di langit senja
Tak banyak kau habiskan masa untuk berlabuh
Seolah kau pengembara abadi
Hinggapmu pun di awang-awang
Tak sisakan jejak menapak, sekalipun kau benar hadir
Tapi untuk apa?
Menyentuh hening yang tak pernah bergeming
Menyentuh hampa yang tak kunjung berkesudahan
Tentang gelisah
Tentang sepimu disana
Tentang ruang yang kau kunci rapat
Kemudian omong kosong yang baru saja kau lontarkan
Rindu???
Ahh.. Tetesan asam di atas luka menganga.
Disini masih saja dengan sunyi yang sama
Hadirmu hanya lambaian daun
Tak beri rona di langit senja
Tak banyak kau habiskan masa untuk berlabuh
Seolah kau pengembara abadi
Hinggapmu pun di awang-awang
Tak sisakan jejak menapak, sekalipun kau benar hadir
Tapi untuk apa?
Menyentuh hening yang tak pernah bergeming
Menyentuh hampa yang tak kunjung berkesudahan
Tentang gelisah
Tentang sepimu disana
Tentang ruang yang kau kunci rapat
Kemudian omong kosong yang baru saja kau lontarkan
Rindu???
Ahh.. Tetesan asam di atas luka menganga.
Senin, 09 Juni 2014
Backstreet
Kita lihat saja
Sampai dimana ujungnya
Seberapa hebat kita bohongi dunia
Seberapa tangguh kau lindungi aku dari murka langit dan bumi
Seberapa lama kita mampu bersembunyi
Hey, sebegitu keraskah hatimu mempertahankan kekonyolan ini?
Begitu istimewakah gadis cengeng yang kerap menangis lemah di pundakmu itu?
Ayolah..
Pikirkan sekali lagi
Tentang aku yang terlanjur berbaur dengan tulus-palsu rasa
Tentang kau yang selalu menjadi pecundang atas nama jarak
Kemudian tentang mereka yang terlanjur menelan dusta
Oh dunia, mohon kerja samanya.
Sampai dimana ujungnya
Seberapa hebat kita bohongi dunia
Seberapa tangguh kau lindungi aku dari murka langit dan bumi
Seberapa lama kita mampu bersembunyi
Hey, sebegitu keraskah hatimu mempertahankan kekonyolan ini?
Begitu istimewakah gadis cengeng yang kerap menangis lemah di pundakmu itu?
Ayolah..
Pikirkan sekali lagi
Tentang aku yang terlanjur berbaur dengan tulus-palsu rasa
Tentang kau yang selalu menjadi pecundang atas nama jarak
Kemudian tentang mereka yang terlanjur menelan dusta
Oh dunia, mohon kerja samanya.
Selasa, 13 Mei 2014
Langit vs Laut
Langit kalo ditanya siapa yang paling biru juga bakal nunjuk diri sendiri. Huuuhh... Dia lupa tuh sama laut, lupa sama samudera-samudera yang membentang luas. Laut kalo ditanya siapa yang paling luas juga gak bakal mikir buat nunjuk langit. Gengsi kali, ahh... entahlah.
Kenapa langit? Kenapa laut? Hemm.. Mungkin karena sama-sama biru walaupun gak pernah ketemu, gak pernah gandengan tangan, apalagi pelukan.
Langit... Saat aku lagi liatin langit, aku gak bisa liat laut. Tapi saat aku lagi liatin laut, aku bisa sekalian liatin langit. Karena di langit gak ada laut, tapi di laut ada langit.
Di langit gak ada laut? Yeahh, itu baru soal dunia bro. Baru pake mata biasa, mata manusia. Mungkin ada mata-mata lain yang bisa nemuin laut di langit.
Mata-mata yang lain? Mata siapa? Yaaa adalaaahhh... Kalo dibahas, gak bakal abis. Masih banyak hal yang belum kita ketahui. Dan bahkan apa yang kita ketahui belum tentu semuanya benar.
Mengembaralah! Temukan kebenaran!
Ngomong-ngomong soal mengembara, Jadi ingat sama planet pengembara. Planet yang hidupnya sendirian. Kesepian gak ya dia??? Mungkin sepi, karena jelas dia gak punya teman. Tapi bebas, gak ada ikatan, gak ada aturan. FREE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kenapa langit? Kenapa laut? Hemm.. Mungkin karena sama-sama biru walaupun gak pernah ketemu, gak pernah gandengan tangan, apalagi pelukan.
Langit... Saat aku lagi liatin langit, aku gak bisa liat laut. Tapi saat aku lagi liatin laut, aku bisa sekalian liatin langit. Karena di langit gak ada laut, tapi di laut ada langit.
Di langit gak ada laut? Yeahh, itu baru soal dunia bro. Baru pake mata biasa, mata manusia. Mungkin ada mata-mata lain yang bisa nemuin laut di langit.
Mata-mata yang lain? Mata siapa? Yaaa adalaaahhh... Kalo dibahas, gak bakal abis. Masih banyak hal yang belum kita ketahui. Dan bahkan apa yang kita ketahui belum tentu semuanya benar.
Mengembaralah! Temukan kebenaran!
Ngomong-ngomong soal mengembara, Jadi ingat sama planet pengembara. Planet yang hidupnya sendirian. Kesepian gak ya dia??? Mungkin sepi, karena jelas dia gak punya teman. Tapi bebas, gak ada ikatan, gak ada aturan. FREE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
"NOMAD", pindah sana, pindah sini, dan akan selau berpindah-pindah karena gak punya tempat tinggal yang tetap. Rumahnya adalah sistem keplanetan dengan bintang sebagai pusatnya. Kalo nemu bintang, ya itulah rumahnya. Kalo udah "bosan", ya dia ngambang ndak jaleh di langit yang luas. Ingat ya, di langit. Bukan di laut :)
Ehhh,, di planet ada laut lho. Ya di planet kita ini, planet biru alias bumi. Hidup di bumi itu berarti hidup di bawah deburan ombak dan denyut samudera. Begitulah kata artikel yang pernah aku baca. Sang laut adalah pendorong kekuatan alam yang memelihara kehidupan di planet bumi. Tanpa laut, tak akan ada kehidupan di bumi.
Ehhh,, di planet ada laut lho. Ya di planet kita ini, planet biru alias bumi. Hidup di bumi itu berarti hidup di bawah deburan ombak dan denyut samudera. Begitulah kata artikel yang pernah aku baca. Sang laut adalah pendorong kekuatan alam yang memelihara kehidupan di planet bumi. Tanpa laut, tak akan ada kehidupan di bumi.
Minggu, 29 Desember 2013
Brokenheart
...
bahkan yang ku kira akan menjadi yang terakhir pun kini sudah pergi.
Pergi dengan alasan yang tak mampu ku cerna. Aku tak tau, apakah memang
alasannya yang tak bisa ku cerna, atau alat 'pencernaan'ku
yang bermasalah. Entahlah... Tapi yang jelas, dia sudah pergi. Pergi
dengan meninggalkan sejuta tanya di kepala ku. Sekarang tinggal aku yang
linglung memikirkan semuanya. Semua yang mungkin tak berarti
apa-apa untuknya. Kadang aku merasa, tiga tahun yang indah itu hanyalah
sampah buatnya. Aku seperti terjebak. Dan betapa bodohnya aku bertahan
dalam tiga tahun penjebakan. Oh My God !!!
Lalu
siapa sebenarnya laki-laki itu Tuhan? Laki-laki yang akan menjadi imam
untuk ku. Laki-laki yang setia, yang tidak akan pernah tega meninggalkan
ku apa pun keadaannya. Dan untuk segelintir "rayuan-rayuan genit" yang
belakangan ini menyapa, I'm so sorry, guys. I'm still heartbroken :'(
Langganan:
Postingan (Atom)