BLINK

Selasa, 22 Juli 2014

Ayyid

Kita sebut apa prasangka yang akhirnya nyata?
Kita sebut apa dugaan yang menjelma jadi kebenaran?
Hey seonggok jiwa yang kesepian
Tak perlu angkuh menutupi lara
Toh, dunia juga punya telinga
Mendengar sayup-sayup gelisahmu
Mengintai samar-samar kecamuk batin di dadamu
Kini kau hendak berdalih apa?
Masih tajamkah belati pencabik senja?
Atau itukah racun pencabut kehidupan?
Haha...
Sungguh kau tidak berbakat menjadi hebat
Tidak pula pantas menjadi separuhnya
Kini, kita sebut apa hubungan kita?

Dimaafkan (lagi)

Dimana lelahku?
Kiranya lumpuh tertimbun zaman
Mematung dengan nyawa usang
Disini luluhku
Meraja
Mencambuk si ratu tega
Iba pada air mata buaya
Seolah perih itu gurih
Seakan sesat itu lezat
Berpestalah si insan jalang
Kekal sudah kemenangan liciknya
Entah kapan aku mampu menghukum dia lebih berat dari dosanya

Senin, 21 Juli 2014

Bulan Penuh

Masih tentang bulan penuh
Yang utuh tanpa cela
Yang agung tanpa tahta
Adalah ia raja dari bunga tidur
Sesekali bertamu dalam lelap dunia palsu
Ia masih saja terdengar merdu
Bahkan dalam bungkamnya sekalipun
Ia selalu terlihat nyata
Kendati kabut menggumpal tebal
Masih tentang bulan penuh
Kami sadari tiada harap
Namun biarlah imajinasi bermain di rimbanya
Memintal ketulusan menjadi asa
Kau bulan penuh mengapa mengukir cela?
Mengikis sejuta rasa yang kami punya
Kau tau?
Nelangsa panjang tak pernah goyahkan kami
Hampa sewindu ditelan sampai mati
Tapi tidak untuk angkuhmu
Tidak pula untuk sombongmu
Kau bulan penuh
Sungguh sudah tak utuh
Tak lagi menjadi primadona di hati kami

Dosen alay vs Mahasiswi oon

Tiada habisnya
Cibir-cibiran dua ekor makhluk langka
Mendramatisir tiap adegan di panggung sandiwara
Kami bertanya, "Apa hebatnya sahut-sahutan berbatas dinding?"
Mereka menjawab, "Persetan dengan kegaduhan yang kami cipta, selama bendera kami berkibar di puncak Himalaya, kami merasa bangga"
Lalu apa lagi yang harus kucegah
Angin yang lembut pun telah membatu
Dia hanya si sosok arogan
Mati tertikam dalam peristiwa mengerikan
Dia terseret dalam kasus patah hati
Bersembunyi dalam topeng kepalsuan
Benar, dia hanyalah sebongkah sakit hati yang belum jua tersembuhkan
Dialah luka yang masih basah, masih berdarah

Endo

Luar biasa
Bak koki handal meracik si mentah menjadi sang matang sempurna
Welldone!!!
Berbahan sampah disulap menjadi mewah
Campuran limbah diolah begitu 'waahhh'
Bertabur bumbu penguat rasa
Tampilan pencitraan menyilaukan mata
Lengkap sudah sajian penggoyang lidah
Menebarkan aroma penggugah selera
Siapakah korbannya?

Penyantap racun yang disamarkan sedemikian rupa

Pupu

Adalah dia yang seribu kali kuberi kesempatan
Tapi seperti yang sudah-sudah, jemu itu belum jua hadir
Hingga ia begitu leluasa mengabaikan
Adalah aku yang seribu kali memberi maaf
Bukan karena aku memiliki lebih
Namun keadaan seolah tak memberikan pilihan lain
Dan jera masih saja enggan menyapa
Hanya seperti ini
Jalan cerita yang begitu sederhana
Jauh dari kata rumit
Hanya mengulang-ulang dua buah peristiwa
Salah, lalu memaafkan
Mengulang salah, lalu mengulang memaafkan
Terlalu membosankan bukan?
Namun jemu itu belum jua hadir
Dan jera masih saja enggan menyapa

Asmon

Tak perlu kau cipta hiruk pikuk
Disini masih saja dengan sunyi yang sama
Hadirmu hanya lambaian daun
Tak beri rona di langit senja
Tak banyak kau habiskan masa untuk berlabuh
Seolah kau pengembara abadi
Hinggapmu pun di awang-awang
Tak sisakan jejak menapak, sekalipun kau benar hadir
Tapi untuk apa?
Menyentuh hening yang tak pernah bergeming

Menyentuh hampa yang tak kunjung berkesudahan
Tentang gelisah
Tentang sepimu disana
Tentang ruang yang kau kunci rapat
Kemudian omong kosong yang baru saja kau lontarkan
Rindu???
Ahh.. Tetesan asam di atas luka menganga.