Masih tentang bulan penuh
Yang utuh tanpa cela
Yang agung tanpa tahta
Adalah ia raja dari bunga tidur
Sesekali bertamu dalam lelap dunia palsu
Ia masih saja terdengar merdu
Bahkan dalam bungkamnya sekalipun
Ia selalu terlihat nyata
Kendati kabut menggumpal tebal
Masih tentang bulan penuh
Kami sadari tiada harap
Namun biarlah imajinasi bermain di rimbanya
Memintal ketulusan menjadi asa
Kau bulan penuh mengapa mengukir cela?
Mengikis sejuta rasa yang kami punya
Kau tau?
Nelangsa panjang tak pernah goyahkan kami
Hampa sewindu ditelan sampai mati
Tapi tidak untuk angkuhmu
Tidak pula untuk sombongmu
Kau bulan penuh
Sungguh sudah tak utuh
Tak lagi menjadi primadona di hati kami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar